KUTACANE – Ketika banjir datang, tidak semua yang hanyut adalah harta benda. Ada ketenangan yang hilang, ada harapan yang diuji, dan ada kesedihan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata.
Di tengah kepedihan masyarakat Desa Kuning, Kabupaten Aceh Tenggara, yang dilanda banjir, Kapolres Aceh Tenggara Rujianto Dwi Kuncoro hadir langsung menjumpai warga.
Di saat masyarakat sedang dirundung kesedihan, ketika rumah dan harta benda terancam, kehadiran seorang pengayom menjadi sesuatu yang begitu berarti. Mungkin kehadiran itu tidak mampu mengembalikan semua yang telah terdampak banjir, tetapi setidaknya memberikan kekuatan bahwa masyarakat tidak menghadapi musibah sendirian.
Pemandangan dan kepedulian tersebut mengundang rasa haru sekaligus apresiasi dari Ketua LSM KALIBER Aceh, Zoel Kanedi, yang dikenal dengan sapaan ZK Agara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Zoel, ada nilai kemanusiaan yang tidak bisa diukur dengan pangkat, jabatan, maupun kekuasaan. Nilai itu terlihat ketika seseorang bersedia hadir di tengah masyarakat yang sedang menderita.
“Terus terang, hati saya ikut terenyuh. Ketika melihat masyarakat sedang menghadapi musibah, ketika mereka membutuhkan perhatian dan penguatan, Kapolres hadir langsung di tengah-tengah mereka. Bagi saya, ini bukan hal kecil. Bagi masyarakat yang sedang bersedih, kehadiran seperti itu bisa menjadi penguat hati,” ungkap Zoel dengan penuh haru.
Ia mengatakan, masyarakat tidak selalu berharap pejabat datang membawa sesuatu yang besar. Terkadang, mereka hanya ingin ada yang melihat penderitaan mereka, mendengarkan keluhan mereka, dan memberikan perhatian ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.
“Bayangkan, di tengah kecemasan akibat banjir, masyarakat melihat seorang Kapolres Rujianto Dwi Kuncoro datang menjumpai mereka. Ada rasa dihargai, ada rasa diperhatikan. Bahkan, sebagian masyarakat merasa seperti didatangi seorang bapak sendiri. Inilah kedekatan yang lahir dari kepedulian, bukan sekadar kata-kata,” tuturnya.
Kapolres Aceh Tenggara AKBP Rujiyanto Dwi Poernomo, S.H., S.I.K., CPHR., CBA., menegaskan, tugas kepolisian bukan hanya menjaga keamanan dan menegakkan hukum. Lebih dari itu, kehadiran polisi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat harus benar-benar dirasakan, terutama ketika rakyat sedang menghadapi masa-masa sulit.
Ia juga berharap seluruh pemangku kebijakan di Aceh Tenggara dapat mengambil pelajaran dari musibah tersebut. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi perhatian ketika ada kegiatan seremonial. Ketika bencana datang, masyarakat membutuhkan kehadiran nyata, perhatian, dan tindakan bersama.
“Kami memberikan apresiasi kepada Kapolres Aceh Tenggara. Jangan pernah menganggap remeh sebuah kehadiran. Mungkin bagi pejabat hanya beberapa menit menjumpai warga, tetapi bagi orang yang sedang dirundung kesedihan, perhatian itu bisa membekas sangat lama. Kita mungkin tidak mampu menghapus air mata mereka, tetapi jangan sampai mereka merasa menangis sendirian,” tegas Zoel.
Ketua KALIBER Aceh itu kembali menyampaikan penghargaan atas sikap humanis Kapolres yang hadir di tengah masyarakat Desa Kuning.
Ada kalanya masyarakat tidak membutuhkan pidato panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang datang, berdiri di samping mereka, melihat kesulitan mereka, dan menunjukkan bahwa penderitaan mereka bukan sesuatu yang boleh diabaikan.
Sebab, ketika banjir surut, mungkin lumpur akan dibersihkan dan rumah akan kembali diperbaiki. Namun, kepedulian seseorang yang hadir ketika masyarakat sedang berduka akan tetap tersimpan dalam ingatan.
Pangkat bisa menjadi kebanggaan, jabatan bisa menjadi kehormatan, tetapi kepedulianlah yang membuat seseorang dikenang dan dicintai masyarakat.
Itulah makna Kapolres merakyat: hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan keamanan, tetapi juga ketika mereka membutuhkan kekuatan untuk menghadapi kesedihan. (Red)




























